Supartoyo*), Arianne Pingkan Lewu*), Irfani Haris Andrianto *), Sarwondo**), Bambang Sidharta**), Rizzy Primanta**), dan Muhammad Luthfi Badruttamam**)
—————————————————————
*) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi
**) Pusat Air Tanah dan Geologi Lingkungan

Kejadian Gempa Bumi Sigi tanggal 16 Juni 2026 telah mengakibatkan terjadinya bencana berupa korban jiwa, korban luka-luka dan kerusakan sejumlah bangunan di Kabupaten Sigi, Parigi Moutong dan Kota Palu. Sehubungan dengan kejadian tersebut dikirim Tim Tanggap Darurat (TTD) Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) untuk melakukan pemeriksaan dan inventarisasi dampaknya guna memberikan rekomendasi teknis. TTD Badan Geologi ada 2 tim, yaitu : Tim 1 melaksanakan pemeriksaan dan inventarisasi dampak di Kabupaten Sigi dan Tim 2 di Kota Palu, dampak tentang bahaya ikutan likuefaksi di Kabupaten Sigi dan Parigi Moutong. Berikut ini laporan dan rekomendasi teknis berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan dan data sekunder lainnya oleh TTD Badan Geologi Tim 2.
Parameter GempaBumi
Gempa bumi terjadi pada hari Selasa, tanggal 16 Juni 2026 pukul 10:27:44 WIB, telah terjadi gempa bumi. Informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa gempa bumi ini berpusat di 1,04°LS dan 120,23°BT atau berjarak sekitar 42 km sebelah tenggara Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, dengan magnitudo (M 6,7) pada kedalaman 10 km. The United States of Geological Survey (USGS) Amerika Serikat, melaporkan bahwa pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,117°LS dan 120,199°BT, dengan magnitudo (M 6,7) pada kedalaman 10 km. Sementara itu Geoforschungzentrum (GFZ) Postdam Jerman, menyebutkan bahwa pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,11°LS dan 120,18°BT, dengan magnitudo (M 6,7 pada kedalaman 10 km.
Kondisi Geologi Daerah Terlanda GempaBumi
Daerah terdekat dengan lokasi pusat gempa bumi adalah Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Morfologi daerah yang terletak dekat pusat gempa bumi berupa perbukitan bergelombang hingga terjal dan Lembah Palolo yang dikelilingi oleh perbukitan. Menurut data Badan Geologi daerah tersebut tersusun oleh tanah keras (kelas C), tanah sedang (kelas D) dan sebagian batuan (kelas B) terutama pada morfologi perbukitan hingga perbukitan terjal. Adapun pada morfologi lembah pada umumnya tersusun oleh tanah sedang (kelas D). Kondisi geologi daerah terdampak gempa bumi terdapat pada Peta Geologi Lembar Poso, Sulawesi (Simandjuntak dkk., 1997). Daerah tersebut pada umumnya tersusun oleh batuan berumur Pra Tersier (batuan metamorf, ultramafik, metasedimen), batuan berumur Tersier (granit, granodiorit dan batuan sedimen), dan endapan Kuarter berupa endapan aluvial danau, sungai dan rombakan. Sebagian batuan berumur Pra Tersier dan Tersier tersebut telah mengalami pelapukan. Endapan Kuarter dan batuan yang telah mengalami pelapukan bersifat lunak, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan gempa bumi. Selain itu pada morfologi perbukitan bergelombang hingga terjal pada batuan yang telah mengalami pelapukan berpotensi terjadi gerakan tanah yang dapat dipicu oleh guncangan gempa bumi kuat dan curah hujan tinggi. Kejadian gempa bumi tanggal 16 Juni 2026 telah memicu terjadinya gerakan tanah akibat guncangan kuat.
Penyebab GempaBumi
Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi, kedalaman dan data mekanisme sumber dari BMKG, USGS dan GFZ, maka kejadian gempa bumi ini diakibatkan oleh aktivitas sesar aktif Palolo, dengan mekanisme sesar normal berarah relatif barat barat laut – selatan tenggara. Menurut data BMKG kedudukan sesar normal tersebut adalah N 113,9o E/ 49,2o dan rake -80,8o. Kenampakan lapangan memperlihatkan adanya lembah Palolo berbentuk memanjang berarah relatif barat barat laut – selatan tenggara. Pengamatan lapangan memperlihatkan bahwa sebaran kerusakan dan bahaya ikutan dominan terdapat pada Lembah Palolo.
Gempa Bumi Susulan
Kejadian gempa bumi utama ini diikuti oleh serangkaian gempa bumi susulan.Informasi dari penduduk di Kabupaten Sigi dan Kota Palu merasakan adanya kejadian gempa bumi susulan yang terjadi setelah gempa bumi utama. Menurut data BMKG hingga tanggal 23 Juni 2026 telah tercatat sebanyak 1.349 kali gempa bumi susulan sejak kejadian gempa bumi utama. Jumlah dan kekuatan kejadian gempa bumi susulan yang terjadi akan terus menurun, hal ini mengindikasikan bahwa blok batuan yang telah terpatahkan dan mengakibatkan terjadinya gempa bumi sedang menuju proses keseimbangan. Selama proses tersebut akan dilepas energi sebagai kejadian gempa bumi susulan.
Dampak GempaBumi
- Dampak Gempa Bumi di Kota Palu
Kejadian gempa bumi tanggal 16 Juni 2026 telah mengakibatkan terjadinya bencana di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Bencana terparah terjadi di Lembah Palolo, Kabupaten Sigi, sehingga kejadian gempa bumi tanggal 16 Juni 2026 disebut gempa bumi Sigi. Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu dan hasil pemeriksaan lapangan telah terjadi bencana yaitu kerusakan bangunan berupa rumah penduduk dan bangunan lainnya. Data BPBD Kota Palu memperlihatkan bahwa kerusakan pada prasarana fasilitas Kesehatan (5 bangunan), fasilitas Pendidikan (84 bangunan), rumah ibadah (3 bangunan), 1 jembatan, bangunan perdagangan (2 bangunan), 5 hotel dan perkantoran (7 bangunan). Jenis kerusakan bangunan tersebut pada umumnya berupa berupa dinding roboh, retakan dinding, retakan lantai, mengelupasnya plester dinding bangunan dan kerusakan plafon.
Hasil pemeriksaan lapangan di Kota Palu memperlihatkan bahwa kejadian gempa bumi Sigi tanggal 16 Juni 2026 tidak memicu terjadinya tsunami, tidak mengakibatkan terjadinya fenomena geologi permukaan berupa sesar permukaan (fault surface rupture), dan tidak mengakibatkan bahaya ikutan berupa retakan tanah, penurunan tanah, likuefaksi dan gerakan tanah/ longsoran yang dipicu oleh guncangan gempa bumi. Fenomena adanya susut laut yang terjadi di Teluk Palu setelah kejadian gempa bumi Sigi tanggal 16 Juni 2026, tidak berkaitan dengan potensi tsunami, karena lokasi pusat gempa bumi terletak di darat. Pengamatan lapangan memperlihatkan tidak adanya jejak tsunami di Teluk Palu. Kejadian gempa bumi Sigi tanggal 16 Juni 2026 memperlihatkan bahwa sarana dan prasarana sektor ESDM tidak ada yang mengalami kerusakan di Kota Palu, sehingga pelayanan sektor ESDM tetap berjalan lancar.
Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan guncangan kejadian gempa bumi Sigi tanggal 16 Juni 2026 di Kota Palu pada skala intensitas V (Modified Mercally Intensity). Hal ini dicirikan oleh guncangan terasa di luar rumah, orang-orang tidur terbangun, cairan tampak bergerak-gerak dan tumpah, barang perhiasan rumah yang kecil dan tak stabil bergerak atau jatuh, pintu membuka dan menutup, pigura di dinding bergerak, retakan dinding, dinding yang tidak kuat dapat roboh sebagian.
Adapun skala intensitas maksimum kejadian gempa bumi Sigi tanggal 16 Juni 2026 terjadi di Lembah Palolo yang meliputi Kecamatan Palolo dan Nokilalaki. Skala intensitas gempa bumi tersebut mencapai VII MMI. Hal ini dicirikan oleh semua orang keluar dari bangunan, terasakan oleh sopir yang mengemudikan mobil, orang sedang berjalan kaki sulit berjalan dengan baik, barang pecah-belah pecah, dinding yang tidak kuat roboh, bangunan dengan konstruksi tidak bagus dapat roboh, terjadi bahaya ikutan gempa bumi (retakan tanah, penurunan tanah, gerakan tanah dan likuefaksi), dan air menjadi keruh.
Adapun di daerah lainnya di Kabupaten Sigi, sebagian Kabupaten Parigi Moutong guncangan gempa bumi terasa pada skala VI MMI. Berdasarkan pengamatan lapangan terlihat bahwa dampak gempa bumi yang terjadi terletak pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gempa Bumi menengah, dan untuk wilayah Kota Palu terletak pada KRB Gempa Bumi Tinggi. Hal ini sesuai dengan Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gempa Bumi Provinsi Sulawesi Tengah yang diterbitkan oleh Badan Geologi tahun 2012.
Untuk mengetahui karakteristik tanah kami melakukan pengukuran mikrotremor menggunakan peralatan seismograf portabel sebanyak 9 lokasi terpilih di Kota Palu pada bangunan yang mengalami kerusakan dan pernah mengalami kerusakan akibat gempa bumi sebelumnya. Adapun satu lokasi berada di kantor BPBD Kabupaten Parigi Moutong (Tabel 1). Lama waktu pengukuran pada setiap lokasi berkisar 45 hingga 60 menit. Hasilnya memperlihatkan bahwa nilai frekuensi tanah berkisar antara 0,37 Hertz (Hz) hingga 4,6 Hz, dan pada umumnya kurang dari 1,75 Hz. Hal ini memperlihatkan bahwa ketebalan sedimen lunak pada lokasi daerah pengukuran relatif tebal. Nilai kecepatan gelombang geser hingga ketebalan 30 m atau disebut Vs30 yang memperlihatkan keras lunaknya tanah atau batuan berkisar antara 204,8 m/det hingga 393,87 m/det dan pada umumnya berkisar antara 204 m/det hingga 350 m/det yang tergolong tanah sedang (Kelas D). Hal ini memperlihatkan bahwa Kota Palu tersusun oleh tanah sedang (Kelas D) yang cukup tebal (nilai frekuensi kurang dari 1,75 Hz).
abel 1. Data lokasi dan hasil pengukuran mikrotremor di Kota Palu dan sekitarnya

Batuan pada lokasi pengukuran mikrotremor merupakan endapan alluvial, terdiri-dari: material lepas berukuran butir berangkal hingga lempung. Hal ini memperlihatkan bahwa Kota Palu rawan terhadap guncangan gempa bumi karena dengan kondisi batuan tersebut diperkirakan akan mengalami efek penguatan gelombang gempa bumi atau amplifikasi. Dengan kondisi muka air tanah yang tergolong dangkal, maka wilayah Kota Palu rawan terhadap potensi likuefaksi. Likuefaksi masif tipe siklik dan tipe aliran atau tipe Palu pernah terjadi di Kota Palu pada kejadian gempa bumi tahun 2018. Adapun pada kejadian gempa bumi Sigi tanggal 16 Juni 2026 tidak terjadi likuefaksi di Kota Palu. Kami tidak menemukan adanya reaktivasi likuefaksi di Kota Palu pada kejadian gempa bumi tersebut. Gempa bumi Sigi tanggal 16 Juni 2026 dengan Magnitudo M 6,7 menyebabkan guncangan gempa bumi maksimum terkonsentrasi di sekitar episenter dengan dampak pada kerusakan struktur bangunan. Jarak yang jauh dari sumber gempa, durasi waktu yang tidak terlalu panjang (5-10 detik), nilai percepatan gempa bumi yang kecil di wilayah Kota Palu serta Muka Air Tanah (MAT) pada beberapa tempat yang telah turun secara signifikan (termasuk area sekitar irigasi Gumbasa yang sudah dibuat kedap) mengakibatkan tidak menimbulkan likuefaksi di Kota Palu. Kerusakan bangunan yang terjadi di Kota Palu pada umumnya tergolong rusak ringan. Adapun bangunan yang mengalami rusak sedang diperkirakan karena kualitas bangunan tidak dibangun menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi.
Selama melaksanakan kegiatan penyelidikan lapangan, disamping melakukan pemetaan dan pemeriksaan dampak gempa bumi tanggal 16 Juni 2026 secara langsung di lapangan, TTD Badan Geologi juga melakukan koordinasi dan diskusi tentang mitigasi gempa bumi dan tsunami dengan BPBD Kota Palu, BPBD Kabupaten Sigi, BPBD Kabupaten Parigi Moutong, dan masyarakat di wilayah bencana. Diskusi membahas tentang potensi gempa bumi di Provinsi Sulawesi Tengah, bahaya gempa bumi (termasuk bahaya ikutan likuefaksi) dan upaya mitigasi bencana gempa bumi. Selain itu TTD Badan Geologi juga menjadi narasumber berkaitan dengan kejadian gempa bumi tanggal 16 Juni 2026 bersama RRI Kota Palu dan komunitas Nemu Buku Kota Palu. Pada kesempatan tersebut narasumber juga menjelaskan tentang produk dari Badan Geologi berkaitan dengan potensi bencana geologi di Sulawesi Tengah.
Masyarakat di lokasi bencana pada umumnya sudah mengetahui tentang gempa bumi dan upaya mitigasinya, sehingga yang perlu dilakukan adalah meningkatkan upaya mitigasi bencana gempa bumi salah satunya dengan membuat rumah dengan konstruksi bangunan tahan gempa bumi. Upaya mitigasi gempa bumi ini harus dilakukan secara menerus dan teratur.
- Pemeriksaan Bahaya Ikutan Likuefaksi di Kabupaten Sigi
Selain mengidentifikasi dampak di Kota Palu, TTD Badan Geologi juga melakukan pemeriksaan bahaya ikutan likuefaksi yang terjadi akibat gempa bumi tanggal 16 Juni 2026. Pengamatan lapangan memperlihatkan bahwa bahaya ikutan likuefaksi terjadi di Kabupaten Sigi. Badan Geologi pada tahun 2024 telah melaksanakan pemetaan kerentanan likuefaksi di Kabupaten Sigi. Berdasarkan peta tersebut dilakukan pengamatan indikasi likuefaksi di Kabupaten Sigi. Wilayah yang mengalami dampak paling signifikan akibat guncangan gempa bumi tanggal 16 Juni 2026 di Kabupaten Sigi adalah Kecamatan Palolo, Nokilalaki, dan Marowala.
- Likuefaksi di Kecamatan Palolo
Likuefaksi yang teramati di Kecamatan Palolo adalah di Desa Tongoa, Rejeki, Sintuwu, dan Sarumana. Manifestasi likuefaksi di Desa Tongoa berupa retakan tanah dengan semburan pasir pada dua rumah dan halaman. Semburan pasir tersebut membentuk bukit kecil yang dikenal dengan likuefaksi tipe sand boil. Likuefaksi keluar dari retakan tanah yang terbentuk di dalam rumah dan dapur dengan lebar retakan sekitar 0,2 – 1 cm dan mengakibatkan penurunan rumah sekitar 1 cm (Gambar 16). Retakan tanah berarah relatif barat – timur. Retakan tanah di dapur warga lainnya lebarnya mencapai 4,2 cm dan turun sekitar 3-4 cm. Pasir dari likuefaksi tipe sand boil berupa pasir lanauan hingga pasir kerikilan berwarna abu – abu, ukuran butir pasir halus. Sumur gali dekat rumah kering setelah gempa dengan MAT kurang dari 5 m. Retakan tanah lainnya terdapat di tanah kebun warga berarah N 310o E dan N 270o E dengan lebar retakan mencapai 8 cm. Pada retakan tanah ini muncul likuefaksi tipe sand boil. Pada saluran irigasi juga terjadi retakan tanah dengan arah N 155o E. Guncangan gempa bumi di Desa Tongoa pada skala VII MMI. Munurut Peta Zona Kerentanan Likuefaksi dari Badan Geologi Desa Tongoa terletak pada kerentanan menengah (warna kuning).
Likuefaksi di Desa Rejeki ditemukan dengan tipe sand boil berupa semburan pasir pada pinggiran pondasi rumah penduduk. Terdapat retakan tanah memanjang ke dalam rumah selebar 1 cm. Material likuefaksi berupa pasir berwarna abu – abu kehijauan, ukuran butir pasir halus hingga pasir sedang. Pada rumah penduduk tersebut dinding kamar runtuh, jendela terlepas. Kedalaman MAT di sekitar lokasi 2 – 3 m.
Likuefaksi di Desa Sintuwu ditemukan di jalan desa dan sawah dengan kenampakan semburan air tipe sand boil. Sewaktu kami melakukan pemeriksaan jejak likuefaksi sebagian sudah hilang dan hanya nampak jejak pasir di halaman rumah penduduk. Terdapat retakan memanjang pada jalan desa dan keluar semburan pasir. Retakan tanah di rumah menyebabkan lantai turun 0,1 cm. Dari sumur suntik warga, keluar pasir yang mencirikan terjadinya likuefaksi. MAT di Desa Sintuwu dangkal dengan kedalaman 1,1 m.
Likuefaksi di Desa Sarumana tersebar cukup luas di sekitar SDN Sarumana dan beberapa rumah warga. Jejak-jejak likuefaksi tipe sand boil terlihat cukup banyak di halaman SDN Sarumana. Menurut keterangan masyarakat, ada semburan pasir sebanyak 15 titik di halaman sekolah ini yang keluar melalui retakan yang terbentuk di paving block. Retakan juga banyak terdapat pada pagar tangga, lantai teras dan tiang bangunan. Beberapa rumah penduduk ke arah barat daya dari SDN Sarumana juga mengalami kerusakan yang dikontrol oleh likuefaksi dan retakan tanah. Retakan tanah tersebut berarah N 30o E hingga N 45o E dengan panjang sekitar 30 m. Rumah penduduk milik Kepala Dusun 2 yang terdampak likuefaksi paling parah di Desa Sarumana telah miring 2-3 derajat, terdapat retakan tanah dengan lebar mencapai 1 – 5 cm, dan ada bagian yang turun hingga 5 cm. MAT dangkal berkisar 0,65 – 1 m. Dari keterangan warga, setelah guncangan gempa bumi terjadi retakan tanah, dan setelah 2 menit terjadi likuefaksi tipe sand boil dan MAT turun sekitar 15 cm. Guncangan gempa bumi di desa yang terlanda likuefaksi di Kecamatan Palolo pada skala VII MMI. Menurut Peta Zona Kerentanan Likuefaksi dari Badan Geologi desa yang terdampak likuefaksi di Kecamatan Palolo terletak pada kerentanan menengah (warna kuning).
- Likuefaksi di Kecamatan Nokilalaki
Kejadian likuefaksi pada di Kecamatan Nokilalaki terdapat di Desa Kamarora A pada Masjid Al-Muhajirin dan beberapa rumah warga. Likuefaksi tersebut muncul dari retakan tanah dengan tipe sand boil. Retakan tanah terjadi dengan lebar 0,2 cm dan penurunan sebesar 0,2 cm dengan arah retakan Utara – Selatan (N 180° E). Meskipun tidak ada laporan semburan pasir, namun banyak terdapat retakan tanah dari halaman hingga bagian dalam Masjid Al-Muhajirin, pada lantai, kusen jendela, tiang kolom dengan lebar hingga 3 cm. Bagian lantai turun 0,1 – 0,2 cm. Pilar masjid juga miring 2° ke arah barat daya. Kemiringan dan penurunan ini diakibatkan proses likuefaksi. Masjid ini tergolong rusak berat karena retakan besar terjadi pada tiang kolom atau bagian struktur. Guncangan gempa bumi di desa yang terlanda likuefaksi di Kecamatan Nokilalaki pada skala VII MMI. Munurut Peta Zona Kerentanan Likuefaksi dari Badan Geologi desa yang terdampak likuefaksi di Kecamatan Nokilalaki terletak pada kerentanan menengah (warna kuning).
- Likuefaksi di Kecamatan Marowala
Fenomena likuefaksi di Kecamatan Marowala termati di jalan depan Perumahan Farinasa berupa semburan pasir tipe sand boil. Semburan pasir dan lumpur keluar di tengah jalan dan dekat parit drainase rumah. Fenomena tersebut hanya teramati di satu rumah, kemungkinan diakibatkan oleh MAT yang sangat dangkal, tanahnya jenuh air, sehingga sewaktu terjadi guncangan gempa bumi menyebabkan air akuifer bebas keluar. Menurut keterangan warga terdapat beberapa rumah yang tidak keluar air dari sumur suntiknya setelah terjadi gempa bumi tanggal 16 Juni 2026. Hal ini diperkirakan berkaitan dengan fenomena likuefaksi. Sementara itu di Huntap Bangga 2, nomor A-7 terdapat retakan pada sambungan tiang kolom selebar 1 – 3 cm dan pagar batas rumah turun 3 cm. Semburan pasir tidak terjadi, kemungkinan tidak sampai ke permukaan. Guncangan gempa bumi di desa yang terlanda likuefaksi di Kecamatan Marowala pada skala VI MMI. Munurut peta kerentanan likuefaksi dari Badan Geologi desa yang terdampak likuefaksi di Kecamatan Marowala terletak pada kerentanan menengah (warna kuning).
- Pemeriksaan Bahaya Ikutan Likuefaksi di Kabupaten Parigi Moutong
Selain itu TTD Badan Geologi melakukan pemeriksaan dampak Gempa Bumi Sigi tanggal 16 Juni 2026 dan bahaya ikutan di Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Berdasarkan data BPBD Kabupaten Parigi Moutong daerah yang mengalami kerusakan bangunan dan fasilitas umum di Kecamatan Sausu, Balinggi, Torue, Parigi Selatan, Parigi, Parigi Barat, Parigi Tengah, Ampibabo dan Tinombo. Total terdapat sebanyak 105 rumah penduduk dan fasilitas umum yang mengalami kerusakan dengan rincian : 1 rumah penduduk Rusak Berat (RB), 3 rumah penduduk Rusak Sedang (RS), 92 rumah penduduk Rusak Ringan (RR), 1 fasilitas umum RB, 2 fasilitas umum RS, dan 6 fasilitas umum RR. Hasil pemeriksaan lapangan di Kabupaten Parigi Moutong memperlihatkan bahwa kejadian gempa bumi Sigi tanggal 16 Juni 2026 tidak memicu terjadinya tsunami, tidak mengakibatkan terjadinya fenomena geologi permukaan berupa sesar permukaan dan tidak mengakibatkan bahaya ikutan berupa retakan tanah, penurunan tanah, likuefaksi dan gerakan tanah/longsoran yang dipicu oleh guncangan gempa bumi.
Pengamatan di Desa Torue, Kecamatan Torue memperlihatkan dinding dapur rumah penduduk roboh, retakan dinding dan pondasi turun sekitar 4 cm. Tidak muncul adanya likuefaksi, namun berdasarkan keterangan pemilik rumah di sekitar rumah tersebut pernah terjadi likuefaksi tipe sand boil pada saat kejadian gempa bumi Pasigala tahun 2018 di sekitar rumah tersebut yang berada di atas batuan lunak, bekas rawa dan jenuh air. Lingkungan sekitar rumah terdampak tersebut merupakan bekas rawa dan sangat berair. Hal sama juga ditemukan di rumah warga Dusun 2, Desa Torue dimana dinding mengalami retakan selebar 1,5 – 2 cm dan retak di bagian tiang kolom kayu. Pondasi juga terlihat agak miring. Guncangan gempa bumi di Kabupaten Parigi Moutong dominan pada skala VI MMI. Berdasarkan informasi dari BPBD Kabupaten Parigi Moutong, wilayah Kabupaten Parigi Moutong belum memiliki peta zona kerentanan likuefaksi dengan skala yang mencukupi, sehingga perlu dilakukan penyelidikan kerentanan likuefaksi agar diketahui wilayah yang rentan terhadap likuefaksi sebagai masukan dalam mitigasi bencana dan penataan ruang.
Kesimpulan
- Wilayah Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Parigi Moutong, Provinsi Sulwesi Tengah tergolong rawan gempa bumi, karena terletak dekat dengan sumber gempa bumi berupa sesar aktif yang terletak di darat.
- Kejadian gempa bumi tanggal 16 Juni 2026 diakibatkan oleh aktivitas sesar aktif Palolo dengan mekanisme sesar normal berarah barat barat laut – selatan tenggara dengan kedudukan N 113,9o E/ 49,2o dan rake -80,8o. Data skala intensitas gempa bumi, sebaran kerusakan bangunan dan bahaya ikutan mendukung kesimpulan ini.
- Kejadian gempa bumi Sigi tanggal 16 Juni 2026 tidak memicu terjadinya tsunami. Adapun fenomena susut laut yang terjadi di Teluk Palu setelah kejadian gempa bumi tersebut, tidak berkaitan dengan potensi tsunami, karena lokasi pusat gempa bumi terletak di darat.
- Guncangan gempa bumi di Kota Palu pada skala intensitas V MMI. Adapun guncangan maksimum terjadi di Lembah Palolo, meliputi: Kecamatan Palolo dan Nokilalaki yang mencapai skala intensitas VII MMI.
- Kejadian gempa bumi tanggal 16 Juni 2026 telah mengakibatkan bencana di Kota Palu berupa kerusakan bangunan dan rumah penduduk. Dampak kejadian gempa bumi di Kota Palu tidak mengakibatkan terjadinya sesar permukaan, tidak mengakibatkan bahaya ikutan berupa retakan tanah, penurunan tanah, likuefaksi dan gerakan tanah yang dipicu oleh guncangan gempa bumi.
- Kerusakan bangunan yang terjadi di Kota Palu karena bangunan yang dirancang tidak tahan guncangan gempa bumi dan bangunan terletak pada endapan aluvial, sedangkan pada bangunan yang telah dibangun menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi hanya terjadi kerusakan ringan.
- Hasil pengukuran mikrotremor di Kota Palu memperlihatkan bahwa karakteristik geologi setempat merupakan tanah sedang (Kelas D) yang cukup tebal (nilai frekuensi kurang dari 1,75 Hz). Kondisi seperti ini menyebabkan tanah di Kota Palu rawan terhadap guncangan gempa bumi. Selain itu dengan MAT dangkal akan menyebabkan potensi terjadinya bahaya ikutan likuefaksi.
- Kejadian gempa bumi Sigi tanggal 16 Juni 2026 telah mengakibatkan bencana di Kabupaten Sigi, khususnya di Lembah Palolo (Kecamatan Palolo dan Nokilalaki). Selain kerusakan bangunan, terjadi bahaya ikutan berupa retakan tanah, gerakan tanah dan likuefaksi. Likuefaksi terjadi di Kecamatan Palolo, Nokilalaki dan Marowala dengan tipe sand boil. Bahaya ikutan likuefaksi turut mengontrol kerusakan bangunan yang terjadi.
- Kejadian gempa bumi Sigi tanggal 16 Juni 2026 telah mengakibatkan sebanyak 105 rumah penduduk dan fasilitas umum yang mengalami kerusakan di Kabupaten Parigi Moutong. Pengamatan lapangan memperlihatkan tidak terlihat adanya jejak tsunami, tidak mengakibatkan terjadinya sesar permukaan dan tidak mengakibatkan bahaya ikutan berupa retakan tanah, penurunan tanah, likuefaksi dan gerakan tanah/longsoran yang dipicu oleh guncangan gempa bumi yang terjadi.
Rekomendasi
- Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan dari petugas BPBD setempat dan tidak terpancing oleh isu yang tidak jelas sumbernya tentang gempa bumi dan tsunami.
- Wilayah Kota Palu memiliki karakteristik geologi setempat rawan terhadap guncangan gempa bumi. Oleh karena itu bangunan vital, strategis dan mengundang konsentrasi banyak orang agar dibangun menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi.
- Pemerintah Kota Palu bersama dengan masyarakat harus meningkatkan upaya mitigasi gempa bumi secara struktural/ fisik dan nonstruktural/ nonfisik guna mengurangi risiko bencana gempa bumi yang mungkin berulang di kemudian hari. Saat ini upaya mitigasi bencana gempa bumi telah berjalan dengan baik dan cukup banyak komunitas bencana yang ada di Kota Palu.
- Hindari membangun pada tanah lunak atau tanah urugan yang tidak memenuhi persyaratan teknis dalam pemadatannya, karena rawan gempa bumi. Selain itu hindari membangun pada bagian bawah lereng terjal yang batuannya telah mengalami pelapukan dan kondisi tanahnya gembur karena akan berpotensi terjadinya gerakan tanah/longsor yang dipicu oleh guncangan gempa bumi kuat maupun curah hujan tinggi.
- Bagi rumah penduduk di Kecamatan Palolo dan Nokilalaki yang kerusakannya dikontrol oleh proses likuefaksi, dapat dibangun kembali dengan membangun bangunan semi permanen yang sifatnya ringan. Apabila akan membangun bangunan tembok agar benar-benar menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi dan melakukan penguatan pada pondasi agar tidak mengakibatkan kerusakan sewaktu terjadi gempa bumi yang memicu likuefaksi.
- Agar Pemerintah di daerah terdampak gempa bumi Sigi tanggal 16 Juni 2026 membentuk desa tangguh bencana dan sekolah siaga bencana sebagai salah satu upaya mitigasi.
- Agar Pemerintah di wilayah Sulawesi Tengah meningkatkan upaya sosialisasi gempa bumi dan bahaya ikutan, terutama bahaya ikutan likuefaksi. Selama ini masyarakat mengenal likuefaksi seperti yang terjadi pada gempa bumi Pasigala tahun 2018 tipe aliran atau likuefaksi tipe Palu. Padahal terdapat tipe likuefaksi lain, berupa: tipe siklik atau semburan pasir.
- Agar Pemerintah di daerah terdampak gempa bumi Sigi tanggal 16 Juni 2026 segera merevisi RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) dan RDTR (Rencana Detil Tata Ruang) berdasarkan Peta Kawasan Rawan Bencana geologi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencakup bencana gempa bumi, likuefaksi, tsunami, dan gerakan tanah.
- Agar Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemerintah Kabupaten/ Kota memasukkan materi kebencanaan geologi (gempa bumi, tsunami, letusan gunung api dan gerakan tanah) ke dalam kurikulum pendidikan agar para guru dan pelajar dapat meningkatkan pengetahuan tentang mitigasi bencana geologi.
- Wilayah Kabupaten Parigi Moutong belum memiliki peta zona kerentanan likuefaksi dengan skala yang mencukupi, oleh karena itu perlu dilakukan pemetaan kerentanan likuefaksi sebagai masukan dalam mitigasi bencana gempa bumi dan penataan ruang. Hal ini berlaku juga untuk Kabupaten/ Kota lainnya di Provinsi Sulawesi Tengah yang memiliki potensi terjadinya bahaya ikutan likuefaksi.
- Agar Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melaksanakan kegiatan pemetaan geologi pasca kejadian bencana geologi, termasuk bencana gempa bumi tanggal 16 Juni 2026. Hal ini sejalan dengan pasal 7 dan 9 Permen ESDM nomor 11 tahun 2016 tentang Penetapan KRB Geologi. Pemetaan geologi bertujuan untuk memetakan kerusakan tanah dan batuan akibat kejadian bencana geologi termasuk kejadian gempa bumi, dan peta ini menjadi data dasar untuk melakukan revisi tata ruang. Oleh karena itu kami mohon kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah agar mengalokasikan anggaran untuk melaksanakan kegiatan tersebut secara rutin guna mengantisipasi perulangan kejadian serupa. Untuk hasil kegiatan yang lebih optimal maka kegiatan ini dilakukan oleh SKPD yang memiliki tugas dan fungsi di bidang geologi.

Gambar 1. Peta intensitas gempa bumi Sigi tanggal 16 Juni 2026, sebaran likuefaksi, bahaya ikutan, kerusakan bangunan, dan lokasi pengukuran mikrotremor wilayah Sulawesi Tengah.

Gambar 2. Peta sebaran likuefaksi di Kabupaten Sigi.

Gambar 3. Melapor dan diskusi tentang gempa bumi tanggal 16 Juni 2026 bersama BPBD Kota Palu (Bapak Issa, Sekretaris, gambar kiri) dan bersama BPBD Kabupaten Sigi (Ibu Ida, Kabid Kesiapsiagaan, kedua dari kiri, gambar kanan).

Gambar 4. Retakan dinding RS Anutapura Kota Palu (gambar kiri) dan kerusakan dinding Jembatan Palu III di Kota Palu (gambar kanan)

Gambar 5. Pengukuran mikrotremor di Huntap Petobo, Kota Palu (gambar kiri) dan di Kafe Ropang yang mengalami kerusakand Jalan Tanjung Manimbaya, Kota Palu (gambar kanan).

Gambar 6. Kenampakan retakan tanah dan likuefaksi tipe sand boil di Desa Tongoa, Kecamatan Palolo (gambar kiri) dan di halaman SDN Sarumana, Kecamatan Palolo (gambar kanan).

Gambar 7. Fenomena likuefaksi tipe sand boil mengakibatkan kerusakan dinding dan pondasi rumah warga di Desa Rejeki, Kecamatan Palolo (gambar kiri) dan penurunan rumah warga sebesar 5 cm di Desa Sarumana, Kecamatan Palolo (gambar kanan).

Gambar 8. Kenampakan likuefaksi tipe sand boil di Desa Kamarora A, Kecamatan Nokilalaki (gambar kiri) dan kerusakan Masjid selain oleh efek guncangan juga oleh proses likuefaksi di Desa Kamarora A, Kecamatan Nokilalaki (gambar kanan).

Gambar 9. Kerusakan rumah penduduk di Desa Torue, Kecamatan Torue (gambar kiri) dan rumah roboh di Desa Sausu Trans, Kecamatan Sausu (gambar kanan, sumber BPBD Kabupaten Parigi Moutong).

Gambar 10. Diskusi tentang gempa bumi dan bahaya ikutan likuefaksi dengan Sekretaris Desa Desa Rejeki, Kecamatan Palolo (gambar kiri), dan dengan masyarakat di Desa Sintuwu, Kecamatan Palolo (gambar kanan).

Gambar 11. Diskusi tentang gempa bumi dan bahaya ikutan likuefaksi dengan Sekretaris BPBD Kabupaten Parigi Moutong (Bapak Rifai, gambar kiri) dan narasumber acara dialog kentongan di Radio RRI Palu bersama narasumber lainnya (Drs. Ir. Abdullah, MT. dari Universitas Tadulako, posisi di Tengah; Nurhayati Papilemba, S.Si dari BMKG Stasiun Palu, posisi paling kiri) pada hari Selasa, tanggal 30 Juni 2026 pukul 16.00 WITA (gambar kanan).

Gambar 12. TTD Badan Geologi Gempa Bumi Sigi Tanggal 16 Juni 2025. Posisi dari kiri ke kanan : Rizzy Primanta, Supartoyo, Sarwondo, Bambang Sidharta, Irfani Haris Andrianto, Muhammad Luthfi Badruttamam dan Arianne Pingkan Lewu

