Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Museum Sulawesi Tengah menggelar berbagai kegiatan edukatif dan budaya yang melibatkan pelajar tingkat SD hingga SMP. Kegiatan tersebut meliputi pameran kain kulit kayu, lomba menyusun puzzle, lomba cerdas cermat, hingga belajar bersama tentang kain kulit kayu. Seluruh rangkaian kegiatan ini mendapat persetujuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pameran khusus kain kulit kayu berlangsung pada 4 hingga 8 Mei 2026 di Museum Sulawesi Tengah. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus pengenalan kepada generasi muda mengenai warisan leluhur Sulawesi Tengah yang telah ada sejak tiga hingga empat ribu tahun lalu dan masih bertahan hingga saat ini. Sekitar 400 sampai 500 sekolah diundang untuk menghadiri pameran tersebut. Kepala Museum Sulawesi Tengah menjelaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan tujuan didirikannya museum, yaitu sebagai tempat belajar, tempat penelitian, serta sarana pendidikan nonformal bagi masyarakat. Oleh karena itu, sebagian besar kegiatan difokuskan kepada pelajar dalam momentum Hari Pendidikan Nasional.
Selain pameran, Museum Sulawesi Tengah juga mengadakan lomba menyusun puzzle tingkat SD pada 5 Mei 2026. Lomba tersebut memperkenalkan berbagai kekayaan budaya dan fauna khas Sulawesi Tengah, seperti makanan tradisional kaledo dan sayur kelor, senjata tradisional guma dan tombak, serta hewan endemik seperti anoa, babi rusa, tarsius, burung maleo, dan burung alo.
Sementara itu, lomba cerdas cermat tingkat SMP dilaksanakan pada 12 dan 13 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi ajang seleksi menuju kompetisi tingkat nasional. Sulawesi Tengah sendiri telah menorehkan prestasi membanggakan dengan lima kali meraih juara nasional dan tiga kali berturut-turut mendapatkan juara pertama. Kepala museum berharap peserta yang mewakili Sulawesi Tengah tahun ini mampu kembali mengharumkan nama daerah di tingkat nasional. Kegiatan belajar bersama tentang kain kulit kayu juga dilaksanakan pada 8 Mei 2026 dengan melibatkan sekitar 60 mahasiswa dari Universitas Tadulako. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak mengenal lebih dalam sejarah dan proses pembuatan kain kulit kayu sebagai bagian dari identitas budaya Sulawesi Tengah.
Kepala Museum Sulawesi Tengah berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dengan persiapan yang lebih matang serta melibatkan lebih banyak peserta pada tahun-tahun mendatang. Ia juga menekankan pentingnya penyesuaian jadwal kegiatan dengan kalender pendidikan agar partisipasi pelajar dapat lebih maksimal. Selain itu, museum diharapkan semakin dikenal masyarakat luas sebagai tempat pendidikan nonformal, penelitian, dan rekreasi budaya yang berkualitas
