
23-25 Juni 2026 Museum Sulawesi Tengah melaksanakan Kajian Konservasi Organik dan Anorganik yang berlangsung di Ruang Audio Visual dan Storage.
Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kepala UPT Taman Budaya dan Museum, Drs. RIM, M.Hum. Beliau menyampaikan kegiatan ini bertujuan untuk pengembangan kompetensi tenaga teknis (konservator) sebagai pengelola koleksi museum
Adapun narasumber pada kegiatan ini yaitu Gibsi Situmorang, S.Si selaku Pamong Budaya Ahli Pertama, Storage Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan dan Sri Anjarsari, S.Si selaku Pengolah Data Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Tengah.

Gibsi menekan pentingnya konservasi Koleksi Museum agar koleksi tetap lestari. Beliau menyampaikan kerapian dan kebersihan ruang storage merupakan hal yang utama dan perlu diperhatikan. Terdapat sepuluh penyebab kerusakaan diruang koleksi diantaranya tekanan fisik, kriminal, api, air, hama, polutan, cahaya dan UV, ketahanan suhu, kesalahan RH, serta disaosiasi. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu melaui tindakan konservasi baik preventif, kuratif, maupun restorasi.
Sedangkan materi yang diberikan oleh Sri yaitu terkait konservasi koleksi organik, beliau menyebutkan bahwa konservasi dapat dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan alami atau tradisional. Selain itu dalam perawatan koleksi ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan diantaranya sifat koleksi, jenis bahan, dan lingkungan.

Peserta Kajian Konservasi Organik dan An-organik terdiri dari 25 orang tenaga teknis Konservator, Register, Kurator, dan Edukator.
Pada hari pertama, peserta diberikan materi yang meliputi apa itu konservasi, ketentuan hukum, tata cara, alat dan bahan. Hari kedua, peserta melaksanakan praktik konservasi koleksi yang ada di Storage. Hari terakhir, peserta mempresentasikan hasil konservasi dan tanya jawab.
Pentingnya Kajian Konservasi ini diharapkan dapat meminimalisir kesalahan, memastikan adanya kesesuaian antara prosedur dengan ketentuan yang berlaku, serta memperkuat keterampilan tenaga teknis terkait.
#musumsulawesitengah #museumdihatiku
