{"id":488,"date":"2026-04-01T03:19:43","date_gmt":"2026-04-01T03:19:43","guid":{"rendered":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/?page_id=488"},"modified":"2026-04-01T07:30:57","modified_gmt":"2026-04-01T07:30:57","slug":"tenun-donggala-donggala-weaving","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/en\/tenun-donggala-donggala-weaving\/","title":{"rendered":"TENUN DONGGALA (DONGGALA WEAVING)"},"content":{"rendered":"<p class=\"has-primary-color has-text-color has-link-color wp-elements-aa914eeb65019d4f2341dace2045e845\">Tenun Donggala berkembang pada masa kolonial Belanda sebagai hasil pertemuan budaya kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah dan Bugis. Proses pembuatannya dilakukan secara tradisional melalui tiga tahap utama: pemintalan, pencelupan, dan penenunan. Kain ini ditenun menggunakan alat tradisional, yaitu gedongan (alat tenun gendong) dan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin), yang masing-masing menghasilkan karakter kain yang khas. Keistimewaan Tenun Donggala terletak pada teknik ikat benang dan pencelupan warna yang rumit serta seluruhnya dikerjakan secara manual.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-tertiary-color has-text-color has-link-color wp-elements-08079655fd8dbc70bd6ca3708f257a6a\">Berdasarkan teknik dan coraknya, Tenun Donggala terbagi menjadi enam jenis:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li class=\"has-custom-1-font-size\">Palaekat Garusu dan Buya Cura, bermotif kotak besar yang melambangkan kewajiban menjaga perilaku sebagai bekal kehidupan setelah mati.<\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-custom-1-font-size\">Buya Bomba, bermotif ikat dengan ragam hias bunga dan tanaman, bermakna cinta suci kepada keluarga, kerajaan, dan Tuhan.<\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-custom-1-font-size\">Buya Subi, dibuat dengan teknik songket\/sungkit, bermotif bunga menjalar pada kepala kain, melambangkan keteguhan hati pria dan pemersatu keluarga.<\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-custom-1-font-size\">Kombinasi Bomba dan Subi, memadukan motif bunga kuncup dan mawar, bermakna cinta suci Raja terhadap Kerajaan Banawa.<\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-custom-1-font-size\">Buya Bomba Kota, bermotif kotak kecil dan garis vertikal, melambangkan keharusan menjaga tingkah laku manusia.<\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-custom-1-font-size\">Buya Awi, menggunakan satu warna tanpa motif, bermakna kesucian wanita yang siap menikah.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"has-primary-color has-text-color has-link-color wp-elements-7244710411777496fe020a2ee5e6dd14\">Setiap motif Tenun Donggala mengandung makna filosofis dan fungsi sosial tertentu. Melalui keterampilan tangan, pewarnaan alami, dan nilai budaya turun-temurun, Tenun Donggala menjadi penanda identitas sekaligus saksi perjalanan peradaban masyarakat Donggala.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tenun Donggala berkembang pada masa kolonial Belanda sebagai hasil pertemuan budaya kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah dan Bugis. Proses pembuatannya dilakukan secara tradisional melalui tiga tahap utama: pemintalan, pencelupan, dan penenunan. Kain ini ditenun menggunakan alat tradisional, yaitu gedongan (alat tenun gendong) dan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin), yang masing-masing menghasilkan karakter kain yang khas. Keistimewaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"parent":0,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"footnotes":""},"class_list":["post-488","page","type-page","status-publish","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/488","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=488"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/488\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":491,"href":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/488\/revisions\/491"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=488"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}