{"id":447,"date":"2026-03-10T04:01:38","date_gmt":"2026-03-10T04:01:38","guid":{"rendered":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/?page_id=447"},"modified":"2026-03-10T04:02:48","modified_gmt":"2026-03-10T04:02:48","slug":"pakaian-adat-suku-toli-toli-traditional-clothing-of-the-toli-toli-tribe","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/en\/pakaian-adat-suku-toli-toli-traditional-clothing-of-the-toli-toli-tribe\/","title":{"rendered":"PAKAIAN ADAT SUKU TOLI-TOLI (TRADITIONAL CLOTHING OF THE TOLI-TOLI TRIBE)"},"content":{"rendered":"<p class=\"has-primary-color has-text-color has-link-color wp-elements-686c7c843243f2b1d9cabbc00ccf119c\">Suku Tolitoli merupakan salah satu suku asli di wilayah Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah, yang memiliki kekayaan budaya dan sejarah panjang. Letak geografis Tolitoli yang berada di pesisir barat laut menjadikannya wilayah strategis bagi pertemuan berbagai kebudayaan seperti Bugis, Gorontalo, dan Melayu. Hal ini memengaruhi corak pakaian adat suku Tolitoli, yang menonjolkan perpaduan antara tradisi lokal dan unsur kerajaan maritim. Pakaian adat Tolitoli tidak hanya berfungsi sebagai busana upacara, tetapi juga sebagai simbol status sosial, kehormatan, dan keindahan budaya daerah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-primary-color has-text-color has-link-color wp-elements-af1a5b00ccdf4522b2e45d4aebd6099d\">Baju adat laki-laki suku Tolitoli disebut Baju Paluwatu, yang menunjukkan kewibawaan dan keberanian kaum pria, Baju berlengan panjang dengan kerah tegak (tertutup) dan kancing di bagian depan. Terbuat dari kain tenun atau sutra polos berwarna gelap (hitam, biru tua, merah marun). Dilengkapi celana panjang dengan warna senada. Memakai sarung lipa sabbe yang diikat di pinggang sebagai tanda kehormatan. Dihiasi ikat pinggang logam atau kain, dan penutup kepala (siga) yang dililit rapi. Dalam upacara adat, sering disertai keris kecil atau pedang tradisional. Melambangkan kewibawaan, ketegasan, dan tanggung jawab laki-laki Tolitoli dalam menjalankan perannya sebagai pelindung keluarga dan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-secaccent-color has-text-color has-link-color wp-elements-4e4cc9a09d84ff3c41f58e94cce21858\">Baju adat perempuan suku Tolitoli dikenal dengan sebutan Baju Kombo, namun dalam beberapa daerah disebut juga Baju Nggembe karena kemiripannya dengan pakaian adat suku Kaili. Terbuat dari kain satin, sutra, atau beludru, berwarna cerah seperti merah, ungu, hijau, biru, atau emas. Modelnya longgar tanpa kerah, menjuntai hingga lutut, dengan lengan panjang. Dihiasi bordiran benang emas atau perak di tepi leher, ujung lengan, dan pinggiran bawah baju. Dipadukan dengan sarung tenun khas Tolitoli atau Donggala, bermotif garis dan bunga geometris. Dilengkapi selendang di bahu kanan atau kiri sebagai pelengkap penampilan. Perhiasan tradisional meliputi kalung panjang, anting besar, dan gelang logam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-secaccent-color has-text-color has-link-color wp-elements-26d0ff6666efd60182ad401dfe7fa73d\">The Tolitoli people are one of the indigenous tribes in Tolitoli Regency, Central Sulawesi Province, boasting a rich culture and a long history. Tolitoli&#8217;s geographical location on the northwest coast makes it a strategic location for the intersection of various cultures, including Bugis, Gorontalo, and Malay. This influences the traditional clothing of the Tolitoli people, which emphasizes a blend of local traditions and elements of maritime kingdoms. Tolitoli traditional clothing serves not only as ceremonial attire but also as a symbol of social status, honor, and the beauty of the regional culture.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-secaccent-color has-text-color has-link-color wp-elements-bae669bff00f9f635f1436f7dd57416e\">The traditional attire of Tolitoli men is called Baju Paluwatu, which shows the authority and courage of men. The long-sleeved shirt with a stand-up collar (closed) and buttons on the front. Made of woven fabric or plain dark-colored silk (black, navy blue, maroon). It is complemented by trousers in the same color. Wearing a lipa sabbe sarong tied around the waist as a sign of honor. Decorated with a metal or cloth belt, and a neatly wrapped head covering (siga). In traditional ceremonies, it is often accompanied by a small keris or traditional sword. Symbolizing the authority, firmness, and responsibility of Tolitoli men in carrying out their role as protectors of the family and community.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-secaccent-color has-text-color has-link-color wp-elements-ee867c91b3e167abdc4748d457f5af14\">The traditional dress of the Tolitoli women is known as the Baju Kombo, but in some regions it is also called the Baju Nggembe due to its similarity to the traditional dress of the Kaili people. It is made of satin, silk, or velvet in bright colors such as red, purple, green, blue, or gold. It is loose-fitting, collarless, reaching down to the knees, with long sleeves. It is decorated with gold or silver thread embroidery on the neckline, sleeve cuffs, and bottom hem. It is paired with a typical Tolitoli or Donggala woven sarong with geometric stripes and floral motifs. A shawl is worn over the right or left shoulder to complete the look. Traditional jewelry includes a long necklace, large earrings, and metal bracelets.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-secaccent-color has-text-color has-link-color wp-elements-fb3c3e41a91df3102a285d7852c99aeb\"><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Suku Tolitoli merupakan salah satu suku asli di wilayah Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah, yang memiliki kekayaan budaya dan sejarah panjang. Letak geografis Tolitoli yang berada di pesisir barat laut menjadikannya wilayah strategis bagi pertemuan berbagai kebudayaan seperti Bugis, Gorontalo, dan Melayu. Hal ini memengaruhi corak pakaian adat suku Tolitoli, yang menonjolkan perpaduan antara tradisi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"parent":0,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"footnotes":""},"class_list":["post-447","page","type-page","status-publish","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/447","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=447"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/447\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":450,"href":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/447\/revisions\/450"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/museumsulawesitengah.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=447"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}