Pakaian adat Suku Pamona adalah pakaian tradisional masyarakat suku Pamona di Sulawesi Tengah yang sarat nilai filosofi dan simbol kehidupan, serta sebagai media penyampai pesan moral, identitas budaya dan gambaran aktivitas dan tatanan sosial leluhur suku Pamona. Baju adat Pamona umumnya dikenakan pada upacara adat, khususnya pada acara pernikahan.
Baju adat wanita terdiri dari dua jenis, berlengan pendek untuk wanita muda dan berlengan panjang untuk wanita yang lebih tua. Sebagai pelengkap baju adat untuk wanita, bagian bawah menggunakan kain sarung panjang yang kedua belah sisinya tidak dijahit dan kain sarung yang kedua belahan sisinya bertemu atau dijahit. Serta dilengkapi hiasa kepala berupa tali bonto. 7 (Tujuh) pilar utama baju adat wanita; Ornamen bentuk baki atau bingka pada dada; Ornamen bentuk daun melingkar pada leher; hiasan dada bentuk bulatan kecil dalam baki; Ornamen bentuk bintang pada dada; Ornamen bentuk suke/bambu pada ujung lengan baju; ornamen bentuk bungkusan pinang pada lingkaran pinggang dan simpul ikatan pada kain sarung bagian pinggang.
Baju adat untuk kaum pria terdiri dari dua jenis, berlengan tiga per empat dan berlengan panjang, dipadukan dengan celana pendek ketat atau celana panjang serta ikat kepala siga. 7 (tujuh) pilar utama pada bajut adat pria; Ornamen batu-batu permata pada krag leher; Hiasan melingkar dibawah krag baju dan membentuk lingkaran kecil dibagian dada dan hiasan didada kiri dan kanan turun kearah pinggang membentuk lingkaran kecil dibagian dada dan hiasan didada kiri dan kanan turun kearah pinggang membentuk huruf M, ornamen tali bansung; ornamen bentuk bintang pada dada; Kain sarung melingkar dari bahu sebelah kiri turun kearah pinggang bagian kanan; Hiasan pada ujung lengan baju bulatan kecil berjari-jari berdampingan bunga, ornamin kemudi; Guma ornamen parang; dan Ornamen bungkusan pinang ditepi baju bagian bawah.
Pamona traditional attire is the traditional clothing of Pamona people in Centra Sulawesi. It holds deep philosophical values and life symbols, serving as a medium to convey moral messages, cultural identity, and depictions of ancentral activities and social structures. This traditional outfit is commonly worn during customary ceremonies, especially wedding ceremonies.
The traditional attire for women consists of two types: short sleeves for young women and long sleeves for older women. It is complemented with a long sarong, either open on both sides or sewn together, and a head ornament called tali bonto. The seven main decorative elements of the women’s attire include: chest ornament in the shape of baki or bingka; leaf-shaped ornament encircling the neck; small circular ornaments inside the baki; star-shaped ornament on the chest; suke/bamboo patterned ornament on the sleeve edge; betel-nut-wrapt ornament around the waist; and a knot tied on the sarong at the waist.
The traditional attire for men also consists of two types: three-quarter sleeves and long sleeves, paired with tight short trousers or long trousers, and a headcloht called Siga. The seven main decorative elements of the men’s attire include: gemstone ornaments on the collar; circular ornament below the collar and small chest circles, with the tali bangsung motif forming the letter “M” toward the waist; star-shaped chest ornament; sarong draped from the left shoulder to the right waist; small circular ornaments with radiating lines and flower-like patterns on the sleeve edge, along with helm-like ornaments; Guma (machete) ornament; and betel-nut-wrap ornament along the lower edge of the shirt.