Pakaian adat suku Bungku didominasi warna hitam, kuning, dan putih. Laki-laki mengenakan tiga jenis busana adat: baju kantiu untuk raja dan pejabat kerajaan, baju Kalangkari untuk acra keagamaan, dan baju Balhadada untuk kalangan umum. Bangsawan memakai sau banta (mahkota), sedangkan rakyat biasa memakai salah satu dari tiga bentuk topi yaitu talingkacili, eko-eko, atau talimpolulu. Dalam upacara pernikahan, perbedaan golongan sosial tampak dari pemakaian salempang yang dikenakan oleh kalangan bangsawan.
Perempuan memakai baju labu yang mirip kebaya kurung dengn potongan khas. Aksesoris wanita terdiri dari bando (jangka boki) berbentuk 13 sunting bunga teratai dan sunting bermotif banta, serta enu (mahkota) berbentuk kalima-kalima. Pada sisi kiri kepala terdapat renggo atau kembang bunga yang dihiasi bulu cendrawasih dan anting (tau tauge). Di bagian dada, perempuan memakai salafi (penutup dada) yang disilang dengan rante kamaki dan s
alempa peko’o yang khusus digunakan oleh pengantin. jika pasangannya mengenakan baju Kalangkari, keduanya wajib memakai jubah.
The traditional clothing of Bungku tribe is dominated with black, yellow, and white colors. Men wear three types of traditional attire: the Kantiu shirt for kings and royal officials, the Kalangkari shirt for religious cremonies, and the Balhadada shirt for the general public. Nobles wear a sau banta (crown), while commoners wear one of three types of hats – talingkacili, eko-eko, or talimpolulu. In wedding ceremonies, social class distinctions are shown through the use of a salempang (sash), which is worn by the noble class.
Women wear a baju labu, which resembles a loose kebaya with a distinctive cut. Their accessories include a headband (jangka boki) shaped with 13 lotus flower ornaments and banta-patterned ornaments, as well as an enu (crown) shaped like kalima-kalima. On the left side of the head, women wear renggo or flower decorations adorned with bird-of-paradise feather and earrings called tau tauge. On the chest, women wear a salafi (breast cover) crossed with a rante kamaki (chain ornament) and a salempa peko’o, which is specifically worn by brides. If her partner wears the Kalangkari shirt, both are required to wear robes.