Aktivitas berburu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sulawesi Tengah sejak masa prasejarah, yang tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan pangan tetapi juga membentuk hubungan yang harmonis antara manusia dan alam. Tradisi ini hingga kini masih dilestarikan oleh beberapa komunitas, seperti masyarakat Raranggonau yang menghuni kawasan pegunungan di sebelah timur Lembah Palu, serta masyarakat Wana di Morowali. Bagi mereka, berburu bukan hanya urusan perut, melainkan juga bentuk pengetahuan turun-temurun tentang keseimbangan ekosistem.
Masyarakat Wana di Kabupaten Morowali dan masyarakat Raranggunau di Kabupaten Donggala sangat mahir membuat ramuan racun yang dioleskan pada mata sumpit. Ramuan racun terbuat dari getah pohon/mpo. Sistem pengetahuan ini diwariskan secara turun temurun dan masih berlangsung hingga saat ini.
Binatang buruan yang ditangkap dimanfaatkan secara penuh. Dagingnya dikonsumsi sebagai sumber protein, sementara beberapa jenis hewan tertentu juga kerap dijadikan hewan peliharaan. Perbedaan ukuran dan jenis hewan buruan menentukan teknologi yang digunakan. Untuk menangkap hewan besar seperti rusa, anoa (mamalia endemik Sulawesi), atau babi rusa, masyarakat menggunakan senjata andalan seperti tombak, jerat, dan penangkapan langsung yang membutuhkan keberanian dan keahlian khusus. Sementara itu, untuk hewan buruan berukuran kecil, digunakan alat yang lebih praktis seperti sumpit beracun atau perangkap jaring.
Melalui diorama dan koleksi alat berburu ini, kita dapat melihat bagaimana kearifan lokal dan adaptasi teknologi sederhana telah memungkinkan manusia untuk hidup berdampingan dengan alam selama ribuan tahun, sebuah warisan budaya yang patut kita pahami dan hargai.
Hunting activities have been an integral part of life in Central Sulawesi since prehistoric times—not only as a means of fulfilling food needs but also as a practice that shapes a harmonious relationship between humans and nature. This tradition is still preserved today by several communities, such as the Raranggonau people who inhabit the mountainous region east of the Palu Valley, as well as the Wana people of Morowali. For them, hunting is not merely about sustenance, but also a form of ancestral knowledge passed down through generations about maintaining ecological balance.
The Wana community in Morowali Regency and the Raranggunau community in Donggala Regency are highly skilled in preparing poison mixtures applied to blowpipe darts. The poison is made from the sap of specific trees (mpo). This knowledge system has been passed down through generations and continues to be practiced today
The hunted animals are fully utilized. Their meat is consumed as a source of protein, while certain animals are also sometimes kept as pets. The size and type of game determine the technology used. To catch large animals such as deer, anoa (an endemic Sulawesi mammal), or babirusa, communities rely on primary hunting tools such as spears, snares, and direct capture—methods that require courage and specialized skills. Meanwhile, for smaller animals, more practical tools are used, such as poisoned blowpipes or net traps.
Through this diorama and the collection of traditional hunting tools, we are able to see how local wisdom and simple technological adaptations have enabled humans to coexist with nature for thousands of years—a cultural heritage that deserves our understanding and appreciation.