Tenun Donggala berkembang pada masa kolonial Belanda sebagai hasil pertemuan budaya kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah dan Bugis. Proses pembuatannya dilakukan secara tradisional melalui tiga tahap utama: pemintalan, pencelupan, dan penenunan. Kain ini ditenun menggunakan alat tradisional, yaitu gedongan (alat tenun gendong) dan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin), yang masing-masing menghasilkan karakter kain yang khas. Keistimewaan Tenun Donggala terletak pada teknik ikat benang dan pencelupan warna yang rumit serta seluruhnya dikerjakan secara manual.
Berdasarkan teknik dan coraknya, Tenun Donggala terbagi menjadi enam jenis:
- Palaekat Garusu dan Buya Cura, bermotif kotak besar yang melambangkan kewajiban menjaga perilaku sebagai bekal kehidupan setelah mati.
- Buya Bomba, bermotif ikat dengan ragam hias bunga dan tanaman, bermakna cinta suci kepada keluarga, kerajaan, dan Tuhan.
- Buya Subi, dibuat dengan teknik songket/sungkit, bermotif bunga menjalar pada kepala kain, melambangkan keteguhan hati pria dan pemersatu keluarga.
- Kombinasi Bomba dan Subi, memadukan motif bunga kuncup dan mawar, bermakna cinta suci Raja terhadap Kerajaan Banawa.
- Buya Bomba Kota, bermotif kotak kecil dan garis vertikal, melambangkan keharusan menjaga tingkah laku manusia.
- Buya Awi, menggunakan satu warna tanpa motif, bermakna kesucian wanita yang siap menikah.
Setiap motif Tenun Donggala mengandung makna filosofis dan fungsi sosial tertentu. Melalui keterampilan tangan, pewarnaan alami, dan nilai budaya turun-temurun, Tenun Donggala menjadi penanda identitas sekaligus saksi perjalanan peradaban masyarakat Donggala.