Tradisi pembuatan kain kulit kayu di Sulawesi Tengah telah berlangsung sejak zaman Neolitikum dan masih bertahan hingga kini. Penamaannya berbeda di setiap wilayah, seperti Ranta (Lembah Bada), Inodo (Lembah Behoa), Hampi (Lembah Napu), dan Kumpe (Lembah Kulawi). Pada masa pendudukan Jepang, kain ini dikenal sebagai Vuya, istilah yang masih digunakan hingga sekarang. Dalam bahasa Kaili dan Kulawi, vuya berarti selimut, sementara di Desa Pendere dimaknai sebagai sarung.
Kain kulit kayu dibuat dari serat kayu nunu (beringin) atau bea/ivo (murbei kertas). Proses pembuatannya meliputi perebusan, fermentasi, pemukulan hingga menjadi serat tipis, pengawetan, dan penjemuran. Seluruh proses memakan waktu sekitar 10–11 hari, menghasilkan kain yang kuat namun sensitif terhadap air.
The tradition of bark cloth making in Central Sulawesi dates back to the Neolithic period and continues to this day. The cloth is known by different names depending on the region, such as Ranta (Bada Valley), Inodo (Behoa Valley), Hampi (Napu Valley), and Kumpe (Kulawi Valley). During the Japanese occupation, it was called Vuya, a term still widely used today. In the Kaili and Kulawi languages, vuya means blanket, while in Pendere Village it refers to a sarong.
Bark cloth is made from the fibers of nunu (banyan) or bea/ivo (paper mulberry). The production process involves boiling, fermentation, beating the fibers until thin, preservation, and drying. The entire process takes approximately 10–11 days, producing a durable textile that must be handled carefully due to its sensitivity to water. Main tools include Peboba (wooden beater), Ike (stone beater), Tatoa (working base), and Sempe.
Alat utama: Peboba (pemukul kayu), Ike (pemukul batu), Tatoa (landasan), dan Sempe.